Metodologi Ayat-ayat dalam Hukum Tafsir Al-Munir

0

Capture

Judul : Metodologi Ayat-ayat dalam hukum Tafsir Al-Munir
No. ISBN : 978-602-281-092-6
Penulis : Dr. Zamakhsyari Abdul Majid, M.A
Tahun terbit : Nopember 2014
Dimensi : XVI + 216 hlm; 15 x 23 cm
Jenis Cover : Soft Cover
Kategori : Tafsir, Islam
Harga : Rp 47,500 + ongkir dari Depok
Stok : Order by SMS >> 085773518074 : Nama, Alamat, Judul, Jumlah pesanan

Salah satu karya Wahbah al-Zuhaily yang tergolong populer di masyarakat adalah kitab Tafsir al-Munir. Kitab ini mengupas tentang tafsir ayat-ayat al-Quran dari sisi al-I’rab, al-Bayan, al-Mufradat, al-Lughawiyah, al-Munasabah, Asabab al-Nuzul, al-Tafsir wa al-Bayan secara berurutan, dan ditutup dengan fiqhu al-Hayat wa al-Ahkam.

Penafsiran yang digunakan Wahbah al-Zuhaily dalam Tafsir al-Munir-nya ini, juga bercorak hukum (tafsir fiqhi). Hal ini, terjadi karena fikih merupakan basis intelektualnya. Oleh karena itu, tak heran jika dalam Tafsirnya ini, banyak dijumpai diskusi fikih menyangkut berbagai hal yang dilengkapi dengan argumentasi dan perbedaan-perbedaan para ulama fikih. Dalam menyikapi perbedaan penafsiran dan perbedaan pendapat, al-Zuhaily kemudian melakukan perbandingan (muqaranah) penafsiran tentang suatu hukum yang terkandung dalam ayat, dan al-Zuhaily juga tidak jarang mengambil sikap yang berbeda dengan pendapat para mufassir lain sebelumnya.

Di dalam buku ini ada dua fokus yang menjadi objek penelitian. Yakni, pertama, faktor yang mempengaruhi Wahbah al-Zuhaily dalam menafsirkan ayat-ayat hukum, meliputi; perjalanan akademisnya, karya-karyanya, serta kondisi sosial politik yang mempengaruhi pemikirannya. Faktor kedua, dan ini merupakan tema pokok yang menjadi pusat pembahasan dalam buku ini, yaitu tentang bagaimana metodologi perbandingan Wahbah al-Zuhaily dalam menafsirkan ayat-ayat hukum. Hal ini meliputi teori penafsiran, metodologi penafsiran, pendekatan dan sistematika penafsirannya.

Kenali 7 Kesalahan Penulis!

0

Ada beberapa macam kesalahan yang sering dilakukan oleh para penulis. Baik penulis yang sudah profesional ataupun penulis pemula. Kami mencoba merangkumnya menjadi 7 hal saja. Apakah kamu melakukan salah satu dari 7 kesalahan berikut ini? Silakan jawab sendiri dengan menyimak ketujuh hal tersebut di bawah ini:

1. Kemalasan.

Ini mungkin kesalahan yang dialami oleh hampir semua penulis. Hasilnya? Buku tidak pernah selesai dan berujung pada draft yang kemudian ditinggalkan terlalu lama tidak tersentuh. Yang akhirnya terlupakan.

Cara mengatasinya terletak pada diri sendiri dengan berjuang melawan kemalasan. Menulis membutuhkan napas panjang dan komitmen yang kuat. Berhentilah menunda dan membuat banyak alasan. Bulatkan tekad dan mulai menulislah!

2. Mencoba menjadi penulis yang sempurna.

Menurut Gardner, seorang penulis novel triler dan misteri, keinginan untuk menjadi penulis sempurna seperti ini bisa menjadi berbahaya bagi penulis, karena penulis cenderung akan fokus pada satu hal, sehingga cerita seakan-akan tidak bergerak. Menurutnya, cerita bertujuan untuk menghibur, oleh karena itu sebuah cerita harus terus bergerak maju. Jangan berhenti hanya karena ingin tulisanmu menjadi sempurna, tetaplah menggerakkan cerita.

3. Terpaku pada kerangka/ outline

Kerangka tulisan memang kita butuhkan dalam menulis. Tujuannya agar cerita tidak menyimpang terlalu jauh dari yang diharapkan, tetapi terlalu fokus dan mengikuti alur outline akan membatasi sebuah cerita menjadi kaku. Oleh karena itu, biarkan kreativitasmu berkembang, gunakan outline sebagai pembatas, bukan panduan utama.

4. Cemburu.

Benar, rasa cemburu juga terjadi pada penulis, sama halnya juga sering terjadi kepada para pekerja seni lainnya. Cemburu yang dimaksud adalah kecemburuan terhadap penulis lain serta karya-karya mereka. Efek dari kecemburuan ini bisa baik tapi bisa juga buruk. Efek baiknya mungkin kamu akan termotivasi untuk menjadi sebaik atau lebih baik dari penulis tersebut. Tapi, efek buruknya kamu akan cenderung meniru cara menulis mereka. Kendalikan emosi cemburumu, jadikan hal positif bagi tulisanmu. Terutama, jadilah dirimu sendiri!

5. Terlalu berfokus pada bisnis.

Mungkin tidak banyak penulis yang bertujuan utamanya adalah menulis untuk bisnis. Sehingga menjadi terobsesi dan fokus pada bisnis, bukan pada karya yang dihasilkannya. Menulis tentang bisnis baik loh, tapi kalau tulisan yang dibisniskan? Silakan jawab sendiri.

6. Tidak membaca buku.

Membaca itu penting untuk seorang penulis. Sangat penting! Jangan berharap dapat menulis dengan baik tanpa pernah sekalipun membaca buku. Seorang penulis Amerika mengungkapkan, “jika seseorang dapat membaca 10 buku setahun kami (penulis), seharusnya dapat melakukannya jauh lebih baik.” Jadi, sudah berapa banyak buku yang kamu baca tiap tahun?

7. Imitasi.

Ada penulis yang terinspirasi oleh karya penulis lain, namun ada juga penulis yang sekadar meniru karya penulis lain. Bedakan antara terinspirasi dengan meniru! Suatu tiruan/imitasi tulisan akan terlihat sangat mirip dengan tulisan aslinya. Berhati-hati dalam menulis, mungkin awalnya hanya terinspirasi tapi bisa berakhir imitasi.

Nah, kini kamu sudah mengenal 7 Kesalahan penulis, yang mana kesalahan yang sering kamu lakukan?

Mulai sekarang, mari bertekad menjadi penulis yang lebih baik dengan menghindari ketujuh kesalahan penulis diatas. Mari berkarya!

“Setiap rahasia jiwa penulis, setiap pengalaman hidupnya, setiap kualitas pikirannya, tertulis dalam karya-karyanya.” —Virginia Woolf

Talkshow buku Dream Smart for Parent @ Radio Dakta

0

Tepat  pukul 07:00 wib saya berangkat menuju Radio Dakta. Dengan semangat 45 dan persiapan yang matang, langkah saya terasa ringan. Anak-anak dijaga oleh suami. Entah mengapa hati ini rasanya senang sekali. Mungkin karena ini adalah pertama kalinya saya berkesempatan siaran dan menjadi narasumber. Yang kedua adalah karena begitu besarnya kepercayaan yang diberikan Indie Publishing dengan menunjuk saya menjadi EO Promo On Air untuk buku-buku terbitan mereka. Alhamdulillah, ini adalah nikmat yang tak mungkin saya lupakan selama karir menulis saya yang masih terbilang yunior.

Perjalanan ke Bekasi Alhamdulillah lancar, lalu lintas tidak macet, bisa jadi karena bertepatan dengan hari sabtu. Kemacetan justru terjadi menjelang rel kereta api, sempat menunggu 15 menit. Di saat macet itulah Pak Yudis menelepon, menanyakan saya sudah sampai mana karena beliau juga terjebak macet ketika hendak melewati rel kereta api. Alhamdulilah, tepat pukul 09:45 wib saya sampai di Radio Dakta. Masuk, bertanya pada seorang bapak yang ada di front office dan langsung dipersilahkan masuk ke ruang tunggu.

Perkenalan singkat dengan Pak Yudis sangat berkesan. Walau beliau menyandang titel Ir. dan dari segi pengalaman jauh di atas saya, namun beliau sangat friendly. Kami terlibat obrolan serius namun tetap diselingi dengan guyonan. Saya mendapat informasi berharga dari beliau tentang tes IQ dan pernak-perniknya, dan betapa EQ lah yang memegang peranan penting dalam kesuksesan seseorang.

Jam di ruang tunggu menunjukkan pukul 09:55 wib ketika tiba-tiba masuk seorang pria dan ternyata beliau adalah Mas Asraf, penyiar acara Bedah Pustaka. Orangnya lucu, blak-blakan dan jauh dari kesan sombong. Beliau memperkenalkan diri dan kami berbicara sedikit tentang buku Dream Smart. Tepat pukul 10:00 wib kami dipersilakan masuk ke ruangan siaran.

Awalnya sih PD habis, enjoy saja masuk ke ruangan. Nah, begitu duduk langsung deh terasa saltingnya. Apalagi ketika melihat bahwa ternyata di sudut ruangan, tepat di bawah papan nama Radio Dakta ada seorang pria ( operator ) dan wanita ( berjilbab, announcer ). Waduh, saya pikir yang siaran nantinya hanya kami bertiga?. Loh, terus itu kenapa ada orang lain ya? Ya sudahlah, setelah diperkenalkan oleh Mas Asraf dengan dua orang petugas tadi, kami dipersilakan memakai headphone. Saat itu terdengar ada suara, saya celingak-celinguk, ganti melihat ke atap seperti orang bingung, setelah pasang kuping kuat-kuat..ohhh, ternyata radionya sedang menyiarkan iklan J. Aduh, terasa banget deh orang yang nggak ngerti apa-apa tentang radio..hehehe.

Bismillahhirohmannirohim, tepat pukul 10:13 wib Mas Asraf mulai On Air. Awalnya sempat bingung juga karena beliau nggak kasih komando kalau siaran sudah mulai. Untung saya dan Pak Yudis termasuk orang yang pendiam, jadi nggak sempet cekakakan atau bicara yang nggak perlu. Nggak bisa ngebayangin deh kalau udah on air ternyata kedengeran suara kami diluar topik..hihihihi.

Mas Asraf memulai siaran dengan memperkenalkan apa itu buku Dream Smart, Pak Yudis sebagai penulis dan saya sebagai wakil dari penerbit IP. Wuihhh, waktu nama saya disebut, pengen deh jingkrak-jingkrak, perasaan hati saya langsung terbang ke negeri awan. Sumpah, baru kali ini saya siaran dan mak nyesss, bangga banget disebut sebagai wakil dari penerbit J

Masuk sesi pertama, Mas Asrof langsung menghujani Pak Yudis dengan berbagai pertanyaan terkait dengan buku. Saya manggut-manggut aja tuh denger Pak Yudis bicara, sambil mata sesekali lirik kanan-kiri. Soalnya saya lagi melihat situasi gimana sih siaran itu, gimana sih cara penyiar ngomong, gimana sih cara kerja dua orang kru di pojok sana..hehehehe.

Nah, begitu Mas Asrof mengumumkan kalau ada hadiah buku untuk pendengar, wah komputer di depannya langsung penuh sama SMS, telepon juga langsung berdering-dering mau bicara dengan Pak Yudis. Singkat kata singkat cerita, setiap sesi lancar golencar. Pak Yudis lancar dan enjoy jawab pertanyaan. Nah, masalah justru datang waktu mau masuk break dan Mas Asrof mengumumkan ada pertanyaan dari pendengar terkait dengan “ bagaimana cara menjadi penulis ? “. Dan pertanyaan itu harus saya yang jawab dan …langsung membuat saya yang tadinya percaya diri langsung menggelepar. Jantung saya yang tadinya santai tiba-tiba langsung lomba lari dengan keringat yang nggak tahu darimana datangnya ( Lah wong ruangannya ber-AC kok ). Untung banget pertanyaannya dijawab setelah jeda iklan.. Mak Nyuss, baguslah kalau begitu, artinya saya punya waktu buat ngipasin dan nenangin jantung saya yang tadi sempat shock..hahahaha.

Sementara radio menayangkan iklan, Mas Asrof mengajak kami bicara ngalor ngidul, mulai dari buku Dream Smart, tentang menulis, dan awal mulanya beliau menjadi penyiar yang disebut “ kecelakaan yang dinikmati “. Ceilee, ini penyiar ngocol habis, santai banget,  bikin saya dan Pak Yudis nggak terasa kalau sedang siaran. Agaknya beliau tahu bagaimana caranya membuat orang rileks dan nggak gugup. Udah gitu, ada piring yang isinya penganan kecil dan sederet air minum kemasan dalam gelas kecil. Duh, orang radio kayaknya punya indera keenam deh, kok kayaknya tahu kalau orang awam siaran harus ada unsur pengalih perhatiannya, jadi nggak terasa kalau lagi siaran. Good Job J.

Mas Operator dari ujung memberi kode kalau harus masuk siaran ( kalau nggak salah ini ada istilahnya, tapi apa ya? ). Kami siap-siap dan seperti biasa, Mas Asrof kembali menerangkan sedikit tentang buku, Pak Yudis dan saya. Beliau mengulangi pertanyaan dari pendengar tentang bagaimana cara menjadi penulis. Bismillah, saya pun menjawab pertanyaan dengan lancar, keringat dan jantung deg-degan kok ya langsung normal ketika saya bicara. Hmm, agaknya mereka tahu kalau saya orangnya PD..hihihi.

Kring..terdengar kembali suara pendengar di telepon, mengajukan pertanyaan. Dijawab Pak Yudis, dan beberapa pertanyaan lewat SMS yang dipilih oleh Mas Asrof. Begitu terus sampai sesi terakhir.

Singkat kata, siaran berjalan lancar, banyak pertanyaan yang belum sempat dijawab karena keterbatasan waktu. Pendengar yang beruntung pun sudah terpilih 3 orang yang berhak memiliki buku Dream Smart. Namun, satu yang pasti, selain pendengar ternyata Mas Asrof pun berminat menulis buku dan meminta IP untuk menjadi penerbitnya. Alhamdulillah, nggak sia-sia saya ngomong panjang lebar tentang dunia penulisan dan penerbitan..hehehe

Akhirnya tiba di penghujung acara. Mbak Announcer ( namanya Tia ) menanyakan kartu nama saya dan saya jawab dengan senyum lebar kalau kartu namanya nggak dibawa ( heleh..padahal memang belum punya, makanya saya minta Mas Dani buatin yg ada banner IP-nya J ). Akhirnya Mbak Tia menulis nama dan no HP saya di Handphone-nya. Nggak apa-apa deh, next time kalau on air lagi harus siap kartu namanya. Jadikan ini pelajaran. Nggak keren banget deh jaman sekarang nggak punya kartu nama, apa kata dunia ? J.

Waktunya berpamitan, cipika cipiki dengan mbak Tia, salam dengan Mas Asrof dengan janji akan tetap berhubungan terkait dengan menulis ( beliau sudah menyimpan no telp saya ) dan tentu dengan Mas operator ( Imam atau Firman ya, maaf mas saya lupa namanya..hiks ). Oh ya, sebelum acara dimulai Mas Asrof sudah bilang loh kalau nanti jangan lupa foto-foto setelah acara selesai ( hadeuh..tahu aja deh kita-kita ini narsis, nggak mau dong moment istimewa dilewatin tanpa foto-foto..hehehe ).

Akhirnya kami keluar dari ruang siaran dengan hati mak plong..Alhamdulillah, lancar dan membawa manfaat banyak buat semuanya. Pak Yudis berhasil mentransfer ilmunya tentang bakat, minat, IQ, EQ. Saya pun berhasil menjawab pertanyaan terkait dengan ilmu menulis, tentang IP dan pembelian buku ( langsung saya sebutkan nomor kontaknya IP ). Eh, begitu keluar langsung dicegat Mbak berjilbab yang ayu, dan beliau langsung menyerahkan lembaran kertas dan sampul coklat. Oh, ternyata itu adalah daftar rekaman pertanyaan dari pendengar. Dan setiap narasumber ternyata selalu diberi lembaran itu, katanya sih kan nggak semua pertanyaan bisa dijawab jadi mungkin narasumber bisa langsung mem-follow up langsung pada pendengar. Wahh..profesional banget ya? Sempat terpikir, apakah semua radio selalu memberikan jejak rekam pertanyaan seperti ini? ( Dan kita akan tahu jawabannya di acara yang sama dengan tempat siaran yang berbeda..heheheh ). Setelah mengucapkan terima kasih saya dan Pak Yudis langsung berpamitan. Pak Yudis pun berjanji untuk mengirimkan foto dan hasil rekaman pertanyaan tersebut. Alhamdulillah, kami berpisah di depan pintu gerbang Dakta dengan sebongkah pengalaman yang tak ternilai harganya.

Banyak hal yang saya pelajari dari kunjungan On Air ke radio tersebut. Saya belajar banyak tentang dunia penyiaran, seluk beluk radio, tentang sepak terjang menjadi penyiar, dan tentang salah satu radio swasta yang saat ini sudah “ Almarhum “. Rasanya waktu satu jam tak cukup untuk ngobrol dan berbagi ilmu dengan para kru radio. Ingin rasanya kembali lagi dan membuat buku khusus tentang radio dan pernak-perniknya ( ehh, ide bagus nih, harus segera direalisasikan..hehehe ).

Satu yang pasti, seorang penulis harus mau bergerak, jangan diam termenung di depan komputer saja. Setidaknya harus membuka diri, mengenal dunia atau sisi lain kehidupan orang atau pekerjaan diluar, dan aktif berpromosi. Tidak hanya buku, namun sedikit berbagi ilmu tentang menulispun mampu membuat seorang penulis mendapat manfaat. Bisa jadi akan menemukan ide-ide untuk bahan tulisan selanjutnya, jadi tahu bahwa masih banyak orang diluar sana yang ingin menulis dan menerbitkan buku namun tidak tahu caranya. Nah, tugas kitalah sebagai penulis berbagi ilmu dan manfaat dengan yang lain. Setitik pencerahan membawa senyum sejuta umat J

Oke, sekian laporan pandangan mata dari On Air bedah buku “ Dream Smart for Parent “ di Radio Dakta 107 FM. Moga sedikit pengalaman ini membawa manfaat buat orang lain, terutama diri saya sendiri..hehehe.

Good Luck.. Kita ketemu lagi di acara On Air selanjutnya. Insya Allah.

Mau buku anda dibedah dan on air di radio seperti ini? Hubungi Mbak Kiki Handriyani

 

Tentang Self Publishing

0

Menerbitkan buku secara self publishing berarti bebas penolakan naskah. Gimana kira-kira? Sounds good? Pastinya!

Tapi, biar kamu ga bingung apa sih self publishing itu? Yuk kita pelajari bersama

Kalau kamu seorang penulis dan mau menerbitkan buku, kamu bisa mencoba beberapa cara agar maksud dan tujuanmu tercapai. Diantaranya adalah:

  1. Mengirimkan naskah ke penerbit mayor, seperti Gramedia, Mizan, GagasMedia, dan sebagainya. Dengan berbagai pertimbangan bisnisnya, para penerbit mayor itu akan terlebih dulu menseleksi naskahmu. Jika sesuai dengan tujuan dan keinginan mereka, kemungkinan besar naskahmu akan diterbitkan, tapi kalau tidak? Sudah bisa dipastikan naskahmu ditolak.
  2. Menerbitkan buku secara swadaya dengan modal sendiri. Ini berarti, selain sebagai penulis, kita juga bertindak sekaligus sebagai penerbitnya, ini yang disebut Self publishing.
  3. Karena swadaya, semua biaya penerbitan buku ditanggung sendiri. Tapi bukan berarti kita tidak boleh mengalihdayakan hal-hal teknis yang berkaitan dengan penerbitan buku (editing, mendesain isi dan cover buku, mengurus ISBN, mencetak buku, mendistribusikan buku, dan sebagainya). Semua hal yang tidak kita kuasai bisa kita alihdayakan kepada pihak lain.

Indie Publishing adalah perusahaan jasa penerbitan yang membantu setiap penulis untuk menerbitkan naskahnya menjadi buku. Kami menyediakan semua hal dari A-Z layanan penerbitan buku, seperti: editing, mendesain cover buku, tata letak isi, mengurus ISBN, mencetak buku, mendistribusikan buku, book launching event, dan sebagainya)

Kenapa Self Publishing?

Hnah, ini dia pertanyaan umum dan paling mendasar. Biar mudah dimengerti, mari kita pahami jika mengirim naskah ke penerbit mayor, pasti ada kemungkinan naskah kita ditolak. Kenapa? Karena si penerbit dengan berbagai kebijakan bisnisnya, juga sebagai pihak penyandang dana untuk penerbitan buku-buku mereka tentu berharap mendapatkan keuntungan dari setiap buku yang mereka terbitkan. Karena aspek bisnis yang lebih dominan inilah maka keputusan untuk menerbitkan sebuah buku menjadi begitu rumit.

Penerbit mayor hanya bersedia menerbitkan buku yang–menurut pertimbangan mereka–memiliki nilai jual yang tinggi, atau best seller. Sedangkan buku yang–menurut pertimbangan mereka–jelek, tidak punya potensi pasar, dan kemunginan tidak laku akan mereka tolak.

Lain halnya dengan perusahaan publishing service seperti Indie Publishing hampir dapat dipastikan tidak akan menolak naskah. KOK BISA? Karena seperti dijelaskan di atas, meski publishing services sekalipun berorientasi bisnis, tapi penyandang dana untuk setiap buku yang diterbitkan berasal dari penulis itu sendiri. So, bagaimanapun kondisi naskah kita, punya nilai jual kah, berdaya laris kah atau tidak, publishing services bisa dipastikan akan tetap menerbitkannya.

Chat dengan kami