Jurang Penderitaan

Capture

Judul : Jurang Penderitaan
No. ISBN : 978-602-281-049-0
Penulis : Robertus Nauw
Tahun terbit : Desember 2013
Dimensi : x + 152 hlm; 14 x 21 cm
Jenis Cover : Soft Cover
Kategori : POLSOSBUD
Harga : Rp 30,000 + ongkir dari Depok
Stok : Order by SMS >> 085773518074 : Nama, Alamat, Judul, Jumlah pesanan

Buku ini adalah kumpulan tulisan yang coba ikut memberikan pressure dan solusi lewat opini yang dibangun melalui media lokal yang ada di Papua dan Papua Barat, terlebih juga sebagai gerakan moral yang disuarakan melalui sebuah konsep yang percaya bahwa transformasi tidak mungkin terwujud tanpa adanya transformasi pribadi. Mengapa? Kita tahu bahwa masyarakat merupakan kesatuan individu-individu, oleh karena itu untuk melakukan sebuah perubahan sosial, maka tidak dapat tidak, haruslah didahului dengan perubahan pribadi-pribadi. Dan bagaimana proses perubahan pribadi-pribadi? Langkah pertama haruslah dilakukan perubahan terhadap paradigma (pola pikir). Fakta bahwa masih banyak mahasiswa yang kuliah dengan fokus utama adalah untuk mendapatkan gelar dan bukannya untuk meningkatkan intelektualnya (keilmuannya). Paradigma ini akan membawa imbas pada perilaku mahasiswa bersangkutan yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan gelar dan akhirnya justru melanggar prinsip-prinsip keilmuan.

Mengapa kita harus melakukan perubahan? Karena, jika kita tidak mempersiapkan diri kita, maka sudah dipastikan kita akan tersingkir. Apalagi, memberikan pressure dan solusi pada pemerintah selamanya tidak harus turun ke jalan, tapi juga lewat tulisan yang dibangun melalui media, terutama yang ada di Papua dan Papua Barat.

Menulis sebagai gerakan moral yang disuarakan melalui sebuah konsep. Apalagi konsep ini lahir dari realita yang terlihat begitu memilukan hati. Realita yang telah menyebabkan banyak mahasiswa bersikap apatis untuk berbicara mengenai kemajuan, karena mereka sudah lelah untuk bermimpi tentang hari esok. Maka harus ada suara yang harus diteriakkan, ataukah kita diam dan menyuarakannya lewat tulisan. Belajar menulis dengan memanfaatkan media terkecil di kampus (mading), bahkan media sungguhan secara terencana, namun tetap menjunjung tinggi nilai moral, menghargai nilai-nilai keadilan, serta menghargai harkat dan martabat manusia.

Inilah wujud perubahan lewat pembangunan paradigma melalui media, semoga membawa perubahan pola pikir dan pola rasa setiap generasi muda Papua, yang tidak menghendaki adanya pertumpahan darah, sebab ini hanya perubahan pola pikir tanpa harus bersinggungan dengan orang lain. Semoga Papua tetap damai dan itu menjadi tanggungjawab bersama, apakah kita tetap eksis ataukah kita akan mengalami kejutan masa depan.

Chat dengan kami