Senandung Melati di Bukit Sahara

Capture

Judul : Senandung Melati di Bukit Sahara
No. ISBN : 978-602-281-004-9
Penulis : Bang Jay
Tahun terbit : Juli 2013
Dimensi : viii + 259 hlm; 14 x 21 cm
Jenis Cover : Soft Cover
Kategori : Parenting
Harga : Rp 45,000 + ongkir dari Depok
Stok : Order by SMS >> 085773518074 : Nama, Alamat, Judul, Jumlah pesanan

AKU dipanggil Melati. Usiaku 17 tahun. Wajahku yang cantik dengan kulit bersih membuat teman-teman memanggilku Bule. Aku terlahir ketika mama dan papa berusia belia, masih sekolah kelas 2 SMA. Aku tidak tahu apakah aku terlahir karena cinta atau nafsu semata. Belum genap dua tahun usiaku, mama dan papa berpisah. Jerit tangis air mataku deras mengalir ketika menyaksikan gelegak pertengkaran mereka. Kenapa jerit tangis air mata derita tidak mampu meluluhkan nurani kedua orang tuaku? Mama memutuskan untuk bekerja di Kafe. Aku dibesarkan oleh Nenek. Dua tante tiri, dan kakek tiriku, semua menganggur. Bisa dibayangkan hidup tanpa kasih sayang, miskin harta, miskin hati. Pertengkaran, makian, dan hinaan membunuh jiwa kami. Jiwa mati suri!

Aku kelas 5 Sekolah Dasar, ketika mama menghilang meninggalkanku. Sebatangkara, sendiri menghadapi ganasnya badai sahara Metropolitan. Kasih sayang dan bimbingan tinggallah terbang meregang asa. Semua menjadi gulita, terbang tanpa arah, terjepit di sela-sela kebingungan dan kepanikan. Makian menu keseharian jiwa raga ketika aku merengek, berharap sesuap nasi. Terkadang amarah, makian, atau hinaan yang terhidang. Uang bagaikan satu-satunya dewa penolong yang meredakan kebisingan amarah dan makian dalam hidupku.

Ketika usiaku 15 tahun, aku mengenal Adi sang malaikat jiwaku. Begitu indah kisah kasih, serasa diterbangkan mengukir awan. Perahu kecil begitu anggun mengarungi telaga cinta. Aku dinikahkan siri melengkapi kesempurnaan lukisan kebahagiaan romantika dalam gejolak asmara cinta. Kucurahkan rasa dan asa, disaksikan berjuta gemintang dan senyum penuh makna sang rembulan. Tiba-tiba batang usia terpapas penyakit tanpa iba. Jiwa mas Adi terbang meninggalkan raga. Petir menyambar memekakkan telinga, gulita, tinggal pusara mas Adi. Aku terkapar pingsan tak sadar. Seminggu bedrest. Tanpa pijakan tanpa pegangan, aku melayang tanpa arah. Tangisan dan jeritan tiada bisa mengembalikan mas Adi kedalam pelukanku. Aku terhempas terjerambat dalam nista dan hina…

Baca kisah selengkapnya di novel yang ditulis berdasarkan kisah nyata ini!

Chat dengan kami